Sejarah Perang Gerilya Di Indonesia

Setelah proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia benar-benar mengalami masa terberat untuk mempertahankannya, alasannya adalah Belanda  dan sekutunya serta Jepang masih berusaha untuk merebut kekuasaan di Indonesia, salah satu strategi perang di perjuangan para pejuang untuk menaklukkan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Perang Gerilya adalah terjemahan dari bahasa Spanyol yaitu Guerrilla yang secara harfiah berarti perang kecil.Secara historis, perang gerilya adalah perang perlawanan diam-diam, sangat sabotase, tetapi terfokus dan efektif, di mana pasukan Indonesia dapat menggunakan strategi perang gerilya ini untuk menyerang  Belanda kapan saja, di mana saja. Perang gerilya di Indonesia Salah satu yang berdampak pada masyarakat internasional karena adanya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah serangan umum 1 Maret 1949 di bawah komando yang dipimpin oleh Jenderal Soedirman, yang dikenal sebagai pemimpin yang andal dalam penerapan strategi gerilya. Ia pernah bergerilya sejauh 1000 km  di  Jawa Tengah dan Jawa Timur selama 8 bulan, bahkan ketika sakit  dan perlu digendong dan digendong ia tetap menjalankan tugasnya sebagai pemimpin pasukan

Awal Perang

Pertama, pada 14 Desember 1948, Belanda kembali menginvasi Indonesia, tepatnya pulau Jawa. Kedatangan Belanda untuk melumpuhkan dan menghancurkan semangat tentara Indonesia, pasukan Belanda melakukan beberapa kali serangan, termasuk di Yogyakarta. diluncurkan di Pangkalan Udara Maguwo dan kemudian dilanjutkan melalui serangan darat. Desember 1948 Yogyakarta  dilumpuhkan dan dikuasai oleh pasukan Belanda. Memang, Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh.Hatta dan beberapa perwira Indonesia ditangkap oleh Belanda. Hal ini mendorong Jenderal Soedirman meninggalkan Yogyakarta untuk bergerilya. Selama perang gerilya, Jenderal Soedirman dan pasukannya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka menempuh jarak jauh di atas sungai, gunung, lembah dan hutan dan juga melakukan serangan terhadap pos jaga Belanda atau selama konvoi.Gerilya yang dilakukan pasukan Indonesia merupakan strategi perang untuk memecah konsentrasi pasukan Belanda, keadaan ini membuat pasukan Belanda kewalahan, apalagi penyerangan dilakukan secara mendadak dan cepat, adanya taktik ini membuat TNI dan orang bersatu. berhasil menguasai situasi dan medan pertempuran. Puncaknya adalah penyerangan 1 Maret 1949 serentak di seluruh  Indonesia dan berhasil mengusir Belanda.

Kepemimpinan Jenderal sebagai Tokoh Perang Gerilya

Keberhasilan perang gerilya tidak  lepas dari peran pemimpinnya, Jenderal Soedirman adalah pejuang kemerdekaan yang telah berjuang sejak menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA), cerdas, cakap, bertekad dan bijaksana ditunjukkan oleh mereka. keberhasilan dalam menetapkan strategi untuk menghadapi pertahanan Sekutu – NICA di Ambarawa.Dalam perang gerilya, Soedirman mengembangkan strategi perang daerah yang diorganisir dari pusat komando yang tersembunyi, dan berkat taktiknya, Yogyakarta akhirnya dikuasai kembali  oleh Indonesia.

Ditiru negara lain

Hebatnya strategi perang gerilya ini akhirnya dicontoh oleh negara lain yaitu Ho Chi Minh untuk memungkinkan Vietnam Utara  menang melawan Vietnam Selatan dan AS untuk perang gerilya tentara atau tentara yang dianggap sangat efektif, bahkan melakukan sambaran petir. melawan musuh. Taktik ini juga sangat berguna dan efektif saat menyerang musuh dalam jumlah besar yang mengalami disorientasi dan tidak menguasai medan. Terkadang taktik ini juga  mengarah pada taktik pengepungan yang tidak terlihat.Saat ini, taktik perang gerilya  Jenderal Soedirman sudah mapan sebagai sarana untuk mengembangkan esprit de corps di lingkungan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Selain itu, taruna dalam pelatihan militer harus mengikuti jalur gerilya  Jenderal Soedirman sebelum menyelesaikan pelatihan. 

Nah itu dia Sejarah tentang Perang Gerilya yang terjadi di Indonesia!